Polonia
kabut di kota medan
polonia hujan lagi…
Mendadak teringat suara Iin Parlina saat aku duduk termangu di ruang tunggu bandara Polonia. Suara lembutnya bersilomba dengan pengumuman datangnya pesawat dari Jakarta.
Iin benar, sore ini Polonia berkabut, memendekkan jarak pandang.
Pernahkah kita berdua berada di kota ini?
Rasanya belum.
Tapi, bayangan indahmu terus membuntutiku sejak tadi malam, sajak aku beranjak tidur di hotel lewat tengah malam. Seakan-akan kita pernah berada di kota ini pada suatu masa yang belum terlalu lama berlalu.
“Jangan tinggalkan aku ya, sayang,” katamu suatu waktu di sebuah kota, yang jaraknya berarus-ratus mil dari Jakarta.
“Jangan lupakan aku ya, sayang,” masih katamu di lain kota yang jaraknya hampir seribu mil dari Jakarta.
“I love you!” katamu setiap kali ada kesempatan bertemu.
hari ini hujan turun lagi
tiada pelangi, tiada mentari…
Kembali Iin Parlina berbisik di telingaku, bersilomba dengan pengumuman kepergian sebuah pesawat ke Jakarta.
Dan…aku masih diam termangu.
Kubuka blackberry dan mulai berkirim pesan yang sama untuk ketiga kalinya… “Sayang, boleh aku bicara?”
Hari ini sudah tiga kali aku mencoba berkirim pesan yang sama kepadamu, semua tak berbalas. Kemarin, kukirim tiga pesan yang sama, juga tak berbalas. Sudah seminggu, berpuluh-puluh pesan yang sama yang kukirim, juga tak berbalas.
Aku sekedar ingin mendengar suaramu saja. Lalu ingin segera kukatakan padamu:
“Sayang, aku takkan pernah meninggalkanmu!”
“Aku takkan pernah melupakanmu!”
“I love you, too!”
Polonia kini hujan lebat.
Dan kau…. jangankan sudi bicara, bahkan balasan pesanku itupun tak pernah kuterima lagi.
***
Polonia, 6 Nov’ 2009

Based on true story ,Kang?