Tembok

Monday, November 2, 2009
By Pepih Nugraha

Pernahkah kauamati sebuah tembok yang berdiri kokoh?

Belum lama kami berhasil membangun sebuah tembok harapan yang indah, sebuah tembok yang kami ciptakan dalam bayangan, yang  kami sepakati dimana tembok itu berdiri. Mengapa kami membangun sebuah tembok itu? Sebab kami ingin menghabiskan waktu kami di sekitarnya setiap hari, setiap saat, setiap ada kesempatan. Kami sama-sama bersepakat untuk berlindung dari sengatan matahari yang menggigit, dari badai yang menerjang, dari angin yang terbang kencang menampar.

Jika mentari mulai tergelincir di kakilangit barat, kami sama-sama duduk mencangklong di atas tembok harapan itu, memandang pergantian hari dengan penuh minat. Jika malam tiba, kami akan duduk berdua, membiarkan tubuh kami tersirami cahaya rembulan yang temaram sampai tengah malam nanti, sampai lintang kemukus dinihari datang kemudian.  Harus kuakui, wajahmu terlihat sangat cantik jika bermandikan cahaya rembulan!

Semula kami membangun tembok itu dari ketidakmungkinan. Lalu kami diyakinkan, seakan-akan dituntutn oleh naluri, bahwa kami bisa membangun tembok itu secara perlahan-lahan. Kami menggali fondasi yang kuat dan dalam dengan maksud tembok yang kami bangun tahan angin, badai, dan guncangan gempa. Kami gali tanah dan mulai membuat fondasi hati yang kuat. Kami berharap fondasi itu akan kokoh selamanya. Kami yakin, fondasi itu cukup kuat menopang segala kemungkinan. Sebab, itulah fondasi keyakinan yang kami tanam.

Setelah fondasi berdiri, kami yakin bahwa itu awal yang baik untuk membangun sebuah harapan, harapan akan tibanya hidup indah di masa mendatang. Perlahan-lahan, kami mulai membangun badan tembok dari bahan-bahan terbaik yang kami miliki. Kami benamkan batu dan bata jiwa agar tembok berdiri kokoh. Kami perhalus permukaan tembok agar enak dipandang mata. Kami beri hiasan warna-warni agar tembok itu benar-benar tampak indah dari kejauhan. Kami bersuka-cita, karena tembok itu telah berdiri. Sebuah tembok harapan.

Ketahuilah, setiap hari kami bermandi cahaya matahari jika pagi tiba dan ganti bermandi cahaya rembulan jika malam datang menjelang.

Setiap hari, setiap ada kesempatan, kami selalu menyempatkan diri untuk bermain di sekitar tembok itu. Kami bahkan sering berdiri menclok di atas permukaannya sambil berpegangan erat. Kadang kami melewat hari-hari kami di tembok harapan yang kami bangun sendiri dengan susah payah itu tanpa kami sadari waktu berlalu bagai kilat. Kami memuaskan rasa dahaga cinta kami. Kami tidak peduli orang lain menatap kami yang sedang menikmati kesyahduan tembok harapan yang teduh, menikmati cinta kami di tembok yang kami bangun sendiri itu.

Dan… waktu benar-benar cepat berlalu. Ketika waktu berlalu bagai angin, kami menemukan tembok harapan masih tetap berdiri. Berdiri di tempat semula dimana kami tanam fondasi hati yang kokoh. Akan tetapi, kami tidak lagi berkunjung dan berbagi cerita di tembok harapan itu. Kami tidak lagi datang berdua untuk memadu kasih di sana. Sekarang kami datang sendiri-sendiri, pada waktu yang tidak pernah bersamaan lagi. Kami tidak pernah lagi saling berpegangan erat di tembok harapan itu. Jarak, waktu, dan cita-cita memisahkan kami sedemikian kejam.

Sekarang, tembok harapan itu telah berubah menjadi tembok kesunyian yang sempurna.

Aku, kadang datang hanya sekadar termangu bersandar di tembok harapan yang pernah kami bangun bersama itu.  Kulewati tembok harapan yang pernah kami bangun, berharap kau ada di sana. Setiap hari tembok itu memanggilku untuk sekadar merebahkan diri, memejamkan mata, lantas mengenang masa-masa indah saat kami bersusah payah membangun tembok itu dengan fondasi hati. Dan kau, tidak ada lagi di sini, tidak menemaniku lagi di tembok harapan yang pernah kita bangun ini. Ketahuilah, sayang, aku bahkan tak sanggup berharap kau bisa terlihat lagi di tembok yang penuh kenangan ini.

Tembok ini masih ada. Tembok harapan itu masih berdiri, meski telah menjadi tembok keheningan yang mencekam.

Hemm… dimanakah kini kau berada?

One Response to “Tembok”

  1. Zuhri

    Jadi sedih habis baca ‘Tembok’. Yang kurang saya sukai menulis hal-hal membuat sedih dan menyayat hati baik kisah nyata atau rekaan. Tapi Kang Pepih kok malah dengan lancar menuliskannya?

    #25

Leave a Reply