Anak

Thursday, October 22, 2009
By Pepih Nugraha

Pertengahan 1996 saat saya masih meliput berita-berita metropolitan di Harian Kompas, saya sering kali menjumpai peristiwa tragis, kematian. Kematian yang kejam bisa memisahkan anak dengan orangtuanya, memisahkan orangtua dengan anak-anaknya, memisahkan adik dengan kakak-kakaknya, memisahkan kakak dengan adik-adiknya, dan seterusnya. Kematian bagaimanapun bentuk dan caranya, adalah sesuatu yang tidak enak untuk dibahas dan diingat-ingat. Tetapi yang ingin saya ceritakan di sini adalah kematian seorang anak, bayi, atau bahkan jabang bayi (janin).

Suatu waktu di RSCM saya pernah menjumpai seorang ibu beretnis batak yang stres melihat kematian anak satu-satunya. Anaknya sudah dewasa sebenarnya, berusia sekitar 20an tahun. Ia tewas karena pembunuhan, ditusuk oleh orang yang tidak dikenal. Karena mayat itu sudah kaku, perawat membantu meluruskan tangannya agar tidak mengangkat ke depan seperti zombie dengan mata terbelalak. Dua perawat berusaha menekuk tangan yang terjulur ke depan itu untuk ditaruh di atas perut, sebagaimana biasanya posisi jenazah. Si Ibu berteriak histeris, “Jangan kalian sakiti anakku!” Dua perawat lelaki itu membalas sekenanya, “Lah, sudah mati ini, Bu!”

Si Ibu tidak peduli, ia masih berteriak, “Jangan sakiti lagi anakku, ya!” Lalu ia menimang-nimang tubuh yang terbujur kaku itu dan sesaat kemudian menari-nari tarian tradisional batak di depan mayat anakknya tanpa hirau sekelilingnya. Ibu itu menari-nari tanpa setetes air mata tersisai karena memang sudah tertumpah sebelumnya. Air matanya sudah kerontang.

Suatu waktu saat saya bertugas di Makassar lima tahun lalu, enam mayat mengapung di sungai Jeneberang akibat perahu yang mereka terbalik dan tumpangi tenggelam di sungai berair deras, saat hendak pergi ke seberang sungai. Waktu itu hari pertama lebaran musimnya orang bersilaturahmi. Enam keluarga harus kehilangan enam orang yang yang mereka cintai di hari yang seharusnya menjadi hari kemenangan itu. Dua dari enam mayat itu masih kanak-kanak, umur sekitar 3 sampai 5 tahunan. Saya menyaksikan ibu anak-anak itu tenggelam dalam duka yang dalam, menjerit histeris memanggil-manggil anaknya, memeluk dan mengguncang-guncangkan tubuh anak itu, berharap akan bergerak lagi.

Saya membayangkan almarhumah ibu saya yang juga ditinggal pergi salah seorang anaknya, adik saya sendiri, saat anak itu berusia dua tahun. Pastilah Ibu mersakan duka yang sangat dalam. Duka karena ditinggal pergi anak untuk selamanya.

Suatu waktu di kampung saya, saya melihat seorang bapak memangku anaknya yang masih berumur dua tahun, anak yang terbungkus kain kafan dan dilapisi tikar polos tanpa hiasan. Seperti kebiasaan di kampung, anak itu tidak dimasukkan ke keranda, tetapi cukup dipangku ayahnya dari rumah duka menuju tempat pemakaman. Pemandangan yang saya lihat saat itu, sepanjang jalan bapak itu memangku anaknya dengan berurai air mata, tanpa henti, bahkan air mata itu masih tertumpah saat tubuh mungil di telan bumi. Air mata seorang bapak yang tidak pernah kering.

Suatu saat pula, saya melihat seorang ibu menjerit-jerit histeris karena kehilangan bayi pertamanya yang masih berada di kandungannya, bayi yang masih berupa janin. Sementara, suami ibu muda itu terpekur lesu, berurai air mata. Angannya mendapatkan anak seorang anakĀ  buyar dengan kepergian jabang bayi yang mungkin masih berusia tiga sampai empat bulan. Lihatlah, betapa janinpun sedemikian berharganya bagi keluarga, sedemikian diharapkannya lahir menjadi seorang anak. Tetapi adalakalanya, Tuhan berkehendak lain.

Maka saya suka tidak habis pikir kalau di belahan dunia lain di berbagai pelosok desa dan kota, seorang ibu tega membunuh janinnya, seorang ibu tegas melenyapkan bayi yang baru dilahirkannya, bahkan seorang bapak tega menghabisi anaknya sendiri.

Mereka mungkin lupa, anak adalah titipan Tuhan! Menyia-nyiakan anak sama saja dengan menyia-nyiakan titipan Tuhan. Membunuh janin atau anak-anak bisa berarti melecehkan amanah Tuhan. Meratapi kepergian anak ke alam baqa bukan berarti Tuhan tidak percaya seseorang memegang amanah, lebih karena Tuhan ingin menguji keteguhan dan keimanan orang itu.

Tags:

4 Responses to “Anak”

  1. seperti omongan Mohammad Sobary dalam salah satu bukunya, mereka pun sesungguhnya tak minta dihadirkan. Maka ketika orangtua menginginkan lewat coitus yang intim, sesungguhnya tanggung jawab besar di sana dimulai. Setuju banget mas, anak adalah amanah dari ya raab yang mesti dirawat sepenuh hati

    (salam kenal mas) :D

    #10
  2. Sungguh biadab melebihi binatang, orang lain berusaha mati matian menyayangi dan mempertahankan buah hatinya sedangkan ia hanya dapat menyia2kan amanah dari YME

    #11
  3. Zuhri

    Tulisan yang berbobot, penuh makna dan begitu mendalam. Sebagai tambahan Kang Pepih juga bisa membaca buku Kubik Leadership Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kesuksesan Hidup pada halaman 300 – 301. Terdapat kutipan yang isinya sangat menginspirasi.

    #15
  4. Semoga kita dapat menjaga nyawa semua manusia atau bayi sekalipun

    #16

Leave a Reply