Genit
Konon tidak ada paksaan dalam beragama, juga dalam beribadat. Tetapi ada kalanya kita, sebagai orangtua, harus memaksa anak-anaknya untuk sholat, ngaji, dan bentuk ibadat lainnya. Tidak di Islam, tidak di Kristen, dalam agama apapun ketentuan tidak tertulis itu berlaku. Tetapi bagaimana kalau paksaan itu berlaku pada orang dewasa?
Bagi saya agama dan keyakinan itu sangat personal. Dalam satu keluarga, tingkat keyakinan dan kesalehan orang dewasa berbeda-beda. Perbedaan ini tidak perlu disamakan atau dipaksa harus disamakan. Bagi saya, biarkan sajalah sesuai tingkat keyakinannya itu yang penting hubungan sosial satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lainnya berjalan harmonis.
Namun demikian, saya sering melihat dan menemukan kegenitan seseorang dalam beribadat. Kita bisa menaruh hormat atas bentuk kegenitan ini apabila dia melaksanakannya secara pribadi. Akan tetapi kalau ternyata kegenitan ini berimbas pada pemaksaan terhadap orang lain untuk melakukan hal yang sama atas keyakinan ibadati yang dilakukannya, rasanya ini sudah masuk taraf menganggu privasi orang lain.
Bagi saya, silakan lakukan ibadat sesoleh mungkin di mata Yang Kuasa. Tetapi, jangan lantas memamerkan kegenitan itu untuk memaksa orang lain melakukan hal yang sama dengan apa yang diyakininya.
Saya merasakan, dalam satu agama yang sama pun bentuk pemaksaan atas kegenitan ini tetap dirasakan sebagai gangguan, apalagi kalau pemaksaan atas kegenitan itu dilakukan terhadap pemeluk agama dan keyakinan yang berbeda. Jangan-jangan terjadinya sejumlah perang mengerikan di atas bumi yang telah menghilangkan jutaan nyawa manusia itu bermula dari kegenitan seseorang atau sekelompok orang yang dipaksakan ini.
Asal tahu saja, saya tidak termasuk dan tidak akan pernah menjadi genit dalam urusan ini.
Anda?

[...] Postingan dimuat juga di http://pepihnugraha.com. Kalau mau diskusi lebih personal, mari ngobrol di sini. [...]
mas pepih, dalam agama”islam” sudah jelah bahwa La ikra’a fi addin (tidak ada paksaan dalam beragama)dalam agama “islam” pun alqur’an juga berhati2 “gak genit” menyuruh umatnya menjalankan ibadah. alqur’an menyebutkan dengan kata “aqimi shalat” (dirikanlah shalat) bukan memakai kata Fardu (wajib). malah mencari ilmu pakai kata fardu. krn ibadah/beragama tanpa ilmu ya sia2. barangkali juga terjadi pada agama2 lain
Mas Agus, saya sangat mencamkan dan mencatat kalimat ini alqur’an menyebutkan dengan kata “aqimi shalat” (dirikanlah shalat) bukan memakai kata Fardu (wajib). malah mencari ilmu pakai kata fardu. Luar biasa kuatnya kalimat itu sehingga sangat keliru kalau sebagian orang menafsirkan Islam sebagai “garang” dan “tidak bersabahat”. Nyatanya begitu indah. Hanya saja saya tetap melihat, ada saja sebagian ummat Islam yang entah karena kegenitannya yang berlibahan, membuat kesan seolah-olah Islam itu “menakutkan”. Perjuangan kekerasan dengan pengeboman yang merenggut banyak nyawa korban, bukanlah cara-cara Islam, meski di sisi lain karena kegenitannya yang berlebihan, mereka anggap sebagai jihad jalan masuk ke surga.
Kenapa harus genit? Biasa aja. Mengikuti tuntunan Rasulullah saw. Insya Allah sejuta perasaan nikmat hadir dengan sendirinya.
@Zuhri,
iya kenapa harus genit ya, biasa saja ‘kan lebih bagus!
kang nyuhungkeun izin di posting balik di blog kuring nya ??? http://kisunda.blogdetik.com
@kisunda,
Mangga, teu langkung…
Saya juga sama, kang. Kalau mau meyakini kebenaran keyakinan sendiri silakan saja, itu bagus. Tetapi kenapa harus memaksakan keyakinan kita itu kepada orang lain?
@Dadang
harus yakin pada keyakinan sendiri, biarlah orang lain tidak meyakininya karena dia punya keyakinannya sendiri!