<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pepih Nugraha</title>
	<atom:link href="http://pepihnugraha.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pepihnugraha.com</link>
	<description>Cerita Semata</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Nov 2009 02:25:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Polonia</title>
		<link>http://pepihnugraha.com/?p=54</link>
		<comments>http://pepihnugraha.com/?p=54#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 02:25:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pepih Nugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Polonia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pepihnugraha.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[kabut di kota medan
polonia hujan lagi…
Mendadak teringat suara Iin Parlina saat aku duduk termangu di ruang tunggu bandara Polonia. Suara lembutnya bersilomba dengan pengumuman datangnya pesawat dari Jakarta.
Iin benar, sore ini Polonia berkabut, memendekkan jarak pandang.
Pernahkah kita berdua berada di kota ini?
Rasanya belum.
Tapi, bayangan indahmu terus membuntutiku sejak tadi malam, sajak aku beranjak tidur di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>kabut di kota medan<br />
polonia hujan lagi…</em></p>
<p>Mendadak teringat suara Iin Parlina saat aku duduk termangu di ruang tunggu bandara Polonia. Suara lembutnya bersilomba dengan pengumuman datangnya pesawat dari Jakarta.</p>
<p>Iin benar, sore ini Polonia berkabut, memendekkan jarak pandang.</p>
<p>Pernahkah kita berdua berada di kota ini?</p>
<p>Rasanya belum.</p>
<p>Tapi, bayangan indahmu terus membuntutiku sejak tadi malam, sajak aku beranjak tidur di hotel lewat tengah malam. Seakan-akan kita pernah berada di kota ini pada suatu masa yang belum terlalu lama berlalu.</p>
<p>“Jangan tinggalkan aku ya, sayang,” katamu suatu waktu di sebuah kota, yang jaraknya berarus-ratus mil dari Jakarta.</p>
<p>“Jangan lupakan aku ya, sayang,” masih katamu di lain kota yang jaraknya hampir seribu mil dari Jakarta.</p>
<p>“I love you!” katamu setiap kali ada kesempatan bertemu.</p>
<p><em>hari ini hujan turun lagi<br />
tiada pelangi, tiada mentari…</em></p>
<p>Kembali Iin Parlina berbisik di telingaku, bersilomba dengan pengumuman kepergian sebuah pesawat ke Jakarta.</p>
<p>Dan…aku masih diam termangu.</p>
<p>Kubuka blackberry dan mulai berkirim pesan yang sama untuk ketiga kalinya… “<em>Sayang, boleh aku bicara</em>?”</p>
<p>Hari ini sudah tiga kali aku mencoba berkirim pesan yang sama kepadamu, semua tak berbalas. Kemarin, kukirim tiga pesan yang sama, juga tak berbalas. Sudah seminggu, berpuluh-puluh pesan yang sama yang kukirim, juga tak berbalas.</p>
<p>Aku sekedar ingin mendengar suaramu saja. Lalu ingin segera kukatakan padamu:<br />
“Sayang, aku takkan pernah meninggalkanmu!”<br />
“Aku takkan pernah melupakanmu!”<br />
“I love you, too!”</p>
<p>Polonia kini hujan lebat.</p>
<p>Dan kau…. jangankan sudi bicara, bahkan balasan pesanku itupun tak pernah kuterima lagi.<br />
***</p>
<p>Polonia, 6 Nov’ 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pepihnugraha.com/?feed=rss2&amp;p=54</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tembok</title>
		<link>http://pepihnugraha.com/?p=48</link>
		<comments>http://pepihnugraha.com/?p=48#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 14:25:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pepih Nugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perasaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pepihnugraha.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah kauamati sebuah tembok yang berdiri kokoh?
Belum lama kami berhasil membangun sebuah tembok harapan yang indah, sebuah tembok yang kami ciptakan dalam bayangan, yang  kami sepakati dimana tembok itu berdiri. Mengapa kami membangun sebuah tembok itu? Sebab kami ingin menghabiskan waktu kami di sekitarnya setiap hari, setiap saat, setiap ada kesempatan. Kami sama-sama bersepakat untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kauamati sebuah tembok yang berdiri kokoh?</p>
<p>Belum lama kami berhasil membangun sebuah tembok harapan yang indah, sebuah tembok yang kami ciptakan dalam bayangan, yang  kami sepakati dimana tembok itu berdiri. Mengapa kami membangun sebuah tembok itu? Sebab kami ingin menghabiskan waktu kami di sekitarnya setiap hari, setiap saat, setiap ada kesempatan. Kami sama-sama bersepakat untuk berlindung dari sengatan matahari yang menggigit, dari badai yang menerjang, dari angin yang terbang kencang menampar.</p>
<p>Jika mentari mulai tergelincir di kakilangit barat, kami sama-sama duduk mencangklong di atas tembok harapan itu, memandang pergantian hari dengan penuh minat. Jika malam tiba, kami akan duduk berdua, membiarkan tubuh kami tersirami cahaya rembulan yang temaram sampai tengah malam nanti, sampai lintang kemukus dinihari datang kemudian.  Harus kuakui, wajahmu terlihat sangat cantik jika bermandikan cahaya rembulan!</p>
<p>Semula kami membangun tembok itu dari ketidakmungkinan. Lalu kami diyakinkan, seakan-akan dituntutn oleh naluri, bahwa kami bisa membangun tembok itu secara perlahan-lahan. Kami menggali fondasi yang kuat dan dalam dengan maksud tembok yang kami bangun tahan angin, badai, dan guncangan gempa. Kami gali tanah dan mulai membuat fondasi hati yang kuat. Kami berharap fondasi itu akan kokoh selamanya. Kami yakin, fondasi itu cukup kuat menopang segala kemungkinan. Sebab, itulah fondasi keyakinan yang kami tanam.</p>
<p>Setelah fondasi berdiri, kami yakin bahwa itu awal yang baik untuk membangun sebuah harapan, harapan akan tibanya hidup indah di masa mendatang. Perlahan-lahan, kami mulai membangun badan tembok dari bahan-bahan terbaik yang kami miliki. Kami benamkan batu dan bata jiwa agar tembok berdiri kokoh. Kami perhalus permukaan tembok agar enak dipandang mata. Kami beri hiasan warna-warni agar tembok itu benar-benar tampak indah dari kejauhan. Kami bersuka-cita, karena tembok itu telah berdiri. Sebuah tembok harapan.</p>
<p>Ketahuilah, setiap hari kami bermandi cahaya matahari jika pagi tiba dan ganti bermandi cahaya rembulan jika malam datang menjelang.</p>
<p>Setiap hari, setiap ada kesempatan, kami selalu menyempatkan diri untuk bermain di sekitar tembok itu. Kami bahkan sering berdiri menclok di atas permukaannya sambil berpegangan erat. Kadang kami melewat hari-hari kami di tembok harapan yang kami bangun sendiri dengan susah payah itu tanpa kami sadari waktu berlalu bagai kilat. Kami memuaskan rasa dahaga cinta kami. Kami tidak peduli orang lain menatap kami yang sedang menikmati kesyahduan tembok harapan yang teduh, menikmati cinta kami di tembok yang kami bangun sendiri itu.</p>
<p>Dan&#8230; waktu benar-benar cepat berlalu. Ketika waktu berlalu bagai angin, kami menemukan tembok harapan masih tetap berdiri. Berdiri di tempat semula dimana kami tanam fondasi hati yang kokoh. Akan tetapi, kami tidak lagi berkunjung dan berbagi cerita di tembok harapan itu. Kami tidak lagi datang berdua untuk memadu kasih di sana. Sekarang kami datang sendiri-sendiri, pada waktu yang tidak pernah bersamaan lagi. Kami tidak pernah lagi saling berpegangan erat di tembok harapan itu. Jarak, waktu, dan cita-cita memisahkan kami sedemikian kejam.</p>
<p>Sekarang, tembok harapan itu telah berubah menjadi tembok kesunyian yang sempurna.</p>
<p>Aku, kadang datang hanya sekadar termangu bersandar di tembok harapan yang pernah kami bangun bersama itu.  Kulewati tembok harapan yang pernah kami bangun, berharap kau ada di sana. Setiap hari tembok itu memanggilku untuk sekadar merebahkan diri, memejamkan mata, lantas mengenang masa-masa indah saat kami bersusah payah membangun tembok itu dengan fondasi hati. Dan kau, tidak ada lagi di sini, tidak menemaniku lagi di tembok harapan yang pernah kita bangun ini. Ketahuilah, sayang, aku bahkan tak sanggup berharap kau bisa terlihat lagi di tembok yang penuh kenangan ini.</p>
<p>Tembok ini masih ada. Tembok harapan itu masih berdiri, meski telah menjadi tembok keheningan yang mencekam.</p>
<p>Hemm&#8230; dimanakah kini kau berada?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pepihnugraha.com/?feed=rss2&amp;p=48</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak</title>
		<link>http://pepihnugraha.com/?p=45</link>
		<comments>http://pepihnugraha.com/?p=45#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 05:49:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pepih Nugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pepihnugraha.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Pertengahan 1996 saat saya masih meliput berita-berita metropolitan di Harian Kompas, saya sering kali menjumpai peristiwa tragis, kematian. Kematian yang kejam bisa memisahkan anak dengan orangtuanya, memisahkan orangtua dengan anak-anaknya, memisahkan adik dengan kakak-kakaknya, memisahkan kakak dengan adik-adiknya, dan seterusnya. Kematian bagaimanapun bentuk dan caranya, adalah sesuatu yang tidak enak untuk dibahas dan diingat-ingat. Tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertengahan 1996 saat saya masih meliput berita-berita metropolitan di Harian <em>Kompas</em>, saya sering kali menjumpai peristiwa tragis, kematian. Kematian yang kejam bisa memisahkan anak dengan orangtuanya, memisahkan orangtua dengan anak-anaknya, memisahkan adik dengan kakak-kakaknya, memisahkan kakak dengan adik-adiknya, dan seterusnya. Kematian bagaimanapun bentuk dan caranya, adalah sesuatu yang tidak enak untuk dibahas dan diingat-ingat. Tetapi yang ingin saya ceritakan di sini adalah kematian seorang anak, bayi, atau bahkan jabang bayi (janin). <span id="more-45"></span></p>
<p>Suatu waktu di RSCM saya pernah menjumpai seorang ibu beretnis batak yang stres melihat kematian anak satu-satunya. Anaknya sudah dewasa sebenarnya, berusia sekitar 20an tahun. Ia tewas karena pembunuhan, ditusuk oleh orang yang tidak dikenal. Karena mayat itu sudah kaku, perawat membantu meluruskan tangannya agar tidak mengangkat ke depan seperti zombie dengan mata terbelalak. Dua perawat berusaha menekuk tangan yang terjulur ke depan itu untuk ditaruh di atas perut, sebagaimana biasanya posisi jenazah. Si Ibu berteriak histeris, &#8220;Jangan kalian sakiti anakku!&#8221; Dua perawat lelaki itu membalas sekenanya, &#8220;Lah, sudah mati ini, Bu!&#8221;</p>
<p>Si Ibu tidak peduli, ia masih berteriak, &#8220;Jangan sakiti lagi anakku, ya!&#8221; Lalu ia menimang-nimang tubuh yang terbujur kaku itu dan sesaat kemudian menari-nari tarian tradisional batak di depan mayat anakknya tanpa hirau sekelilingnya. Ibu itu menari-nari tanpa setetes air mata tersisai karena memang sudah tertumpah sebelumnya. Air matanya sudah kerontang.</p>
<p>Suatu waktu saat saya bertugas di Makassar lima tahun lalu, enam mayat mengapung di sungai Jeneberang akibat perahu yang mereka terbalik dan tumpangi tenggelam di sungai berair deras, saat hendak pergi ke seberang sungai. Waktu itu hari pertama lebaran musimnya orang bersilaturahmi. Enam keluarga harus kehilangan enam orang yang yang mereka cintai di hari yang seharusnya menjadi hari kemenangan itu. Dua dari enam mayat itu masih kanak-kanak, umur sekitar 3 sampai 5 tahunan. Saya menyaksikan ibu anak-anak itu tenggelam dalam duka yang dalam, menjerit histeris memanggil-manggil anaknya, memeluk dan mengguncang-guncangkan tubuh anak itu, berharap akan bergerak lagi.</p>
<p>Saya membayangkan almarhumah ibu saya yang juga ditinggal pergi salah seorang anaknya, adik saya sendiri, saat anak itu berusia dua tahun. Pastilah Ibu mersakan duka yang sangat dalam. Duka karena ditinggal pergi anak untuk selamanya.</p>
<p>Suatu waktu di kampung saya, saya melihat seorang bapak memangku anaknya yang masih berumur dua tahun, anak yang terbungkus kain kafan dan dilapisi tikar polos tanpa hiasan. Seperti kebiasaan di kampung, anak itu tidak dimasukkan ke keranda, tetapi cukup dipangku ayahnya dari rumah duka menuju tempat pemakaman. Pemandangan yang saya lihat saat itu, sepanjang jalan bapak itu memangku anaknya dengan berurai air mata, tanpa henti, bahkan air mata itu masih tertumpah saat tubuh mungil di telan bumi. Air mata seorang bapak yang tidak pernah kering.</p>
<p>Suatu saat pula, saya melihat seorang ibu menjerit-jerit histeris karena kehilangan bayi pertamanya yang masih berada di kandungannya, bayi yang masih berupa janin. Sementara, suami ibu muda itu terpekur lesu, berurai air mata. Angannya mendapatkan anak seorang anak  buyar dengan kepergian jabang bayi yang mungkin masih berusia tiga sampai empat bulan. Lihatlah, betapa janinpun sedemikian berharganya bagi keluarga, sedemikian diharapkannya lahir menjadi seorang anak. Tetapi adalakalanya, Tuhan berkehendak lain.</p>
<p>Maka saya suka tidak habis pikir kalau di belahan dunia lain di berbagai pelosok desa dan kota, seorang ibu tega membunuh janinnya, seorang ibu tegas melenyapkan bayi yang baru dilahirkannya, bahkan seorang bapak tega menghabisi anaknya sendiri.</p>
<p>Mereka mungkin lupa, anak adalah titipan Tuhan! Menyia-nyiakan anak sama saja dengan menyia-nyiakan titipan Tuhan. Membunuh janin atau anak-anak bisa berarti melecehkan amanah Tuhan. Meratapi kepergian anak ke alam baqa bukan berarti Tuhan tidak percaya seseorang memegang amanah, lebih karena Tuhan ingin menguji keteguhan dan keimanan orang itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pepihnugraha.com/?feed=rss2&amp;p=45</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta</title>
		<link>http://pepihnugraha.com/?p=41</link>
		<comments>http://pepihnugraha.com/?p=41#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 13:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pepih Nugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pepihnugraha.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu duduk di bangku kelas satu SMA dulu, seorang guru bahasa dan sastra Indonesia berkacamata yang berpenampilan agak kemayu membuyarkan lamunan saya. Seakan-akan dia tahu kalau saya tidak sedang konsentrasi kepada pelajaran yang disampaikan. Padahal, saat itu dia sedang memaparkan konsep cinta dan segala tektek bengeknya. &#8220;Coba kamu deskripsikan apa itu cinta?&#8221;
Saya tidak siap dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sewaktu duduk di bangku kelas satu SMA dulu, seorang guru bahasa dan sastra Indonesia berkacamata yang berpenampilan agak kemayu membuyarkan lamunan saya. Seakan-akan dia tahu kalau saya tidak sedang konsentrasi kepada pelajaran yang disampaikan. Padahal, saat itu dia sedang memaparkan konsep cinta dan segala tektek bengeknya. &#8220;Coba kamu deskripsikan apa itu cinta?&#8221;<span id="more-41"></span></p>
<p>Saya tidak siap dengan pertanyaan yang mendadak mendarat seperti itu. Apalagi yang dia tanyakan konsep cinta. Waktu itu, tentu saja belum baca buku <em>The Art of Love</em>-nya Erich Fromm dan baca puisi Kahlil Gibran. Pertanyaan itu saya terima sebagai ledekan karena saya tidak berkonsentrasi, atau ledekan karena saya ketahuan sudah punya pacar sesekolah, dimana setiap ada kesempatan selalu lengket berdua. Sungguh, saat itu saya tidak bisa mendeskripsikan apa itu cinta secara detail dan mengena. Jawaban saya waktu itu, &#8220;Cinta ya pacaran, Pak?&#8221;</p>
<p>Kelas bergemuruh riuh. Guru tersenyum kecut.</p>
<p>Tetapi dia bilang, apa yang saya katakan itu tidak terlalu keliru. &#8220;Hanya pengertian cinta tidaklah sesederhana itu,&#8221; katanya. Dia pun menjelaskan cinta secara definisi, ungkapan, makna, maupun pengejawantahannya. Wah, rumit benar, pikir saya waktu itu. Yang saya tahu dan rasakan, cinta itu ya pacaran! Cinta itu yang lengket-lengketan jika ada kesempatan.</p>
<p>Baru kemudian saya tahu ada cinta orangtua, cinta anak, cinta Allah, cinta Rasul, cinta keluarga, cinta buta (yang katanya beda dengan buta cinta&#8221;), cinta mati, cinta setengah mati, dan seterusnya. Duh, banyak sekali jenis cinta itu, apa perlu saya hapalkan satu persatu, pikir saya waktu itu.</p>
<p>Belakangan saya rasakan apa yang disebut cinta mati. Maksudnya, saya cinta banget seseorang, seakan-akan tidak ada yang lainnya di dunia ini. Lalu saya bilang sama dia, &#8220;Aku mencintaimu sepenuh hati!&#8221; Pacar tentu saja senang dengan pujian itu. Hanya saja saya terpaksa gigit jari ketika dengan tidak berperasannya pacar mendepak saya. Putus, tusss&#8230; Padahal, saya sebelumnya sudah mengaku cinta mati dan cinta sepenuh hati. Gagal sudah definisi cinta yang saya bangun sendiri, ambruk. Boro-boro cinta sepenuh hati, remah-remahnya pun tak tersisa. Saya bahkan sudah tidak mencintainya lagi saat ia kawin dengan lelaki lain. Duh, cinta yang penuh di hati bisa menjadi tiba-tiba tandas dan kering kerontang ya!</p>
<p>Lantas harus mencari cinta seperti apa lagi? pikir saya.</p>
<p>Saya bersumpah tidak akan pernah mengatakan lagi &#8220;Aku mencintaimu sepenuh hati&#8221; kepada siapapun. Pada akhir perjalanan hidup, bahkan saya tidak pernah mengatakan &#8220;Aku cinta padamu&#8221; (kecuali <em>je t&#8217;aime</em>, <em>ik houd van jou, ich liebe dich, abdi bogoh ka anjeun</em>, kali ya hahaha&#8230;) kepada siapapun, termasuk kepada pacar yang sekarang jadi istri saya. Tidak pernah. Kenapa? Sebab saya tidak mau terperangkap sikap munafik.</p>
<p>Taruhlah saya menyatakan &#8220;Aku mencintaimu sepenuh hati&#8221;, tetapi dalam perjalanan kehidupan berkeluarga selalu saja ada pertengkaran dan perselisihan kecil. Apakah pada saat perasaan marah dan jengkel masih mampu berucap &#8220;Aku mencintaimu sepenuh hati?&#8221; Rasanya berat ya. Mungkin saat itu isi hati tidak penuh-penuh amat oleh cinta!</p>
<p>Apakah dengan tidak pernah mengatakan &#8220;cinta&#8221; saya telah kehilangan makna cinta sesungguhnya. Tidak juga!</p>
<p>Jadi, harus saya apakan cinta yang sekarang saya miliki?</p>
<p>Jawabnya: mencintai dengan bijaksana!</p>
<p>Mungkin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pepihnugraha.com/?feed=rss2&amp;p=41</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Genit</title>
		<link>http://pepihnugraha.com/?p=15</link>
		<comments>http://pepihnugraha.com/?p=15#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 22:49:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pepih Nugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religiositas]]></category>
		<category><![CDATA[Kegenitan Beragama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pepihnugraha.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Konon tidak ada paksaan dalam beragama, juga dalam beribadat. Tetapi ada kalanya kita, sebagai orangtua, harus memaksa anak-anaknya untuk sholat, ngaji, dan bentuk ibadat lainnya. Tidak di Islam, tidak di Kristen, dalam agama apapun ketentuan tidak tertulis itu berlaku. Tetapi bagaimana kalau paksaan itu berlaku pada orang dewasa?
Bagi saya agama dan keyakinan itu sangat personal. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon tidak ada paksaan dalam beragama, juga dalam beribadat. Tetapi ada kalanya kita, sebagai orangtua, harus memaksa anak-anaknya untuk sholat, ngaji, dan bentuk ibadat lainnya. Tidak di Islam, tidak di Kristen, dalam agama apapun ketentuan tidak tertulis itu berlaku. Tetapi bagaimana kalau paksaan itu berlaku pada orang dewasa?<span id="more-15"></span></p>
<p>Bagi saya agama dan keyakinan itu sangat personal. Dalam satu keluarga, tingkat keyakinan dan kesalehan orang dewasa berbeda-beda. Perbedaan ini tidak perlu disamakan atau dipaksa harus disamakan. Bagi saya, biarkan sajalah sesuai tingkat keyakinannya itu yang penting hubungan sosial satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lainnya berjalan harmonis.</p>
<p>Namun demikian, saya sering melihat dan menemukan kegenitan seseorang dalam beribadat. Kita bisa menaruh hormat atas bentuk kegenitan ini apabila dia melaksanakannya secara pribadi. Akan tetapi kalau ternyata kegenitan ini berimbas pada pemaksaan terhadap orang lain untuk melakukan hal yang sama atas keyakinan ibadati yang dilakukannya, rasanya ini sudah masuk taraf menganggu privasi orang lain.</p>
<p>Bagi saya, silakan lakukan ibadat sesoleh mungkin di mata Yang Kuasa. Tetapi, jangan lantas memamerkan kegenitan itu untuk memaksa orang lain melakukan hal yang sama dengan apa yang diyakininya.</p>
<p>Saya merasakan, dalam satu agama yang sama pun bentuk pemaksaan atas kegenitan ini tetap dirasakan sebagai gangguan, apalagi kalau pemaksaan atas kegenitan itu dilakukan terhadap pemeluk agama dan keyakinan yang berbeda. Jangan-jangan terjadinya sejumlah perang mengerikan di atas bumi yang telah menghilangkan jutaan nyawa manusia itu bermula dari kegenitan seseorang atau sekelompok orang yang dipaksakan ini.</p>
<p>Asal tahu saja, saya tidak termasuk dan tidak akan pernah menjadi genit dalam urusan ini.</p>
<p>Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pepihnugraha.com/?feed=rss2&amp;p=15</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salam</title>
		<link>http://pepihnugraha.com/?p=5</link>
		<comments>http://pepihnugraha.com/?p=5#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 09:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pepih Nugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Salam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pepihnugraha.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang, blog yang terlalu personal tidak akan laku dan tidak akan di lirik orang. Baik, saya memang tidak bermaksud jualan di sini dan bukan pula bermaksud mejeng biar dilirik orang. Kadang tidak cukup buat saya memiliki blog serius seperti yang saya punya di Kompasiana. Ternyata, saya perlu waktu untuk merenung, kontemplasi atau apapun namanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata orang, blog yang terlalu personal tidak akan laku dan tidak akan di lirik orang. Baik, saya memang tidak bermaksud jualan di sini dan bukan pula bermaksud mejeng biar dilirik orang. Kadang tidak cukup buat saya memiliki blog serius seperti yang saya punya di <a href="http://pepihnugraha.kompasiana.com">Kompasiana</a>. Ternyata, saya perlu waktu untuk merenung, kontemplasi atau apapun namanya atas apa yang telah, sedang dan akan saya lakukan. Adakah seseorang yang mau berteman untuk diskusi-diskusi yang sangat personal ini?<span id="more-5"></span></p>
<p>Lantas, apa gerangan diskusi yang sangat personal itu? Tentu saja tentang berbagai hal: cinta, tawa, bahagia, duka dan terkadang airmata!</p>
<p>Saya percaya, suatu pandangan, gagasan, pikiran, dan bahkan permenungan, tidak perlu disampaikan panjang lebar. Cukup postingan pendek saja. Jika saya bercerita tentang cinta, bukan berarti saya sedang jatuh cinta dalam arti yang sempit, lantas mengajak Anda dimabuk kepayang. Sebaliknya saat saya bercerita tentang duka, lara, dan airmata, bukan berarti saya cengeng lalu ingin berbagi kepedihan kepada Anda. Bukan!</p>
<p>Saya merasa, kita semua adalah makhluk sosial yang sudah dari kodratnya harus selalu bersama, tersambungkan, dan berbagi dengan sesama. Mungkin dengan cara berbagi, derita berat akan menjadi ringan dan kebahagian kecil akan menjadi kebahagiaan tak terhingga. Di sini saya mau mencari teman sebanyak-banyaknya dan tidak bermaksud sedang mencari musuh meski hanya seorang. Di blog pribadi ini, saya tidak ragu dan malu bercerita mengenai apa yang saya rasakan.</p>
<p>Semata bercerita!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pepihnugraha.com/?feed=rss2&amp;p=5</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
